TAJUK Menjawab Krisis Kepercayaan Rakyat 05 Sep 2025 07:59
Masyarakat kehilangan kepercayaan karena pemerintah tidak bertanggung jawab/apatis terhadap penderitaan dan kebutuhan rakyat, problem korupsi massif yang dibiarkan, dan membiarkan sistem ekonomi kapitalisme mengisap kehidupan rakyat kecil.
Sejak 25 Agustus-2 September 2025, kita menyaksikan rangkaian demonstrasi tidak berkesudahan di berbagai daerah.
Pascademo berbagai pendapat tentang penyebab demonstrasi bermunculan dari sudut pandang politik, ekonomi, dan sosial. Bahkan, ada pakar yang menghubungkan demonstrasi dengan teori konspirasi atau praktik makar.
Kita boleh menyebut demonstrasi ini sebagai “serangan terhadap pemerintah” (attack on government) karena terjadi pembakaran fasilitas publik, penjarahan rumah pejabat publik, bahkan sinisme yang berujung serangan terhadap akun-akun pemerintah.
Dalam buku Attack on Government: Fear, Distrust, & Hatred in Public Life (2004), penulis David P. Levine menulis: serangan terhadap pemerintah terjadi karena ketidakpercayaan warga kepada negara.
Masyarakat kehilangan kepercayaan karena pemerintah tidak bertanggung jawab/apatis terhadap penderitaan dan kebutuhan rakyat, problem korupsi massif yang dibiarkan, dan membiarkan sistem ekonomi kapitalisme mengisap kehidupan rakyat kecil.
Selain korupsi, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menemukan bahwa demonstrasi terjadi karena krisis kepercayaan kepada pemerintah akibat runtuhnya legitimasi fiskal menjadi akar dari gelombang demonstrasi.
Menurutnya, masyarakat diminta membayar pajak, iuran, hingga menerima kebijakan efisiensi pemerintah. Namun di sisi lain, publik melihat tanda-tanda pemborosan, seperti penambahan jumlah kementerian dan lembaga, praktik rangkap jabatan di BUMN, serta menaikkan gaji dan tunjangan bagi pejabat dan anggota DPR.
Kita menyayangkan “penumpang gelap” yang memanfaatkan demonstrasi untuk kepentingannya, bahkan melakukan anarkisme dan penjarahan. Kita berduka cita atas wafatnya para pendemo. Namun, pada saat serentak, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap fakta krisis kepercayaan rakyat kepada negaranya ini.
Filsuf Thomas Hobbes (1588-1679) mengatakan negara terbentuk karena individu menyerahkan sebagian kebebasan dan hak-hak agar tidak ada konflik dan kekacauan. Terimplisit di sana kepercayaan individu pembentuk negara sebagai salah satu fondasi dasar adanya negara.
Maka, tugas Presiden Prabowo pascademo adalah memulihkan kepercayaan rakyat. Presiden Prabowo harus berani memimpin orkestrasi pemerintahanan yang antikorupsi dan mempercepat perbaikan kehidupan ekonomi negara.
Karena itu, Presiden harus mengevaluasi para menteri yang justru memperlambat bahkan bersebarangan dengan kebijakan dan upaya pemilihan kepercayaan dari rakyat. Program yang tidak pro rakyat dan pro kepentingan negara harus segera dievaluasi, dan bila perlu diganti.
Kepercayaan kepada negara sangat penting karena mendorong kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan dan hukum, serta meningkatkan partisipasi publik, yang menjadi kunci menuju kemajuan suatu negara.
Tidak ada pengorbanan rakyat yang sia-sia.
Salam Redaksi IndonesiaSatu.co
Komentar