Breaking News

OPINI SANDWICH GENERATION 06 Nov 2022 18:37

Article image
Penduduk yang terhimpit beban hidup bagaikan sandwich, sejenis makanan cepat saji di Barat.

OlehPrimus Dorimulu*

Sekitar 48,7% penduduk usia produktif di Indonesia masuk kategori “sandwich generation”. Mereka adalah generasi yang terjepit oleh beban berat atas dan bawah. 

Penduduk yang terhimpit beban hidup bagaikan sandwich, sejenis makanan cepat saji di Barat. Lapisan atas dan bawah sandwich adalah roti. Sedang bagian tengah yang dijepit oleh dua lapisan roti adalah daging iris dan sayur. 

“Sandwich generation” atau generasi sandwich adalah mereka terhimpin beban hidup. Lapisan atas adalah orangtua bahkan juga kakek dan nenek yang masih hidup tapi tanpa penghasilan. Sedang lapisan bawah adalah anak-anak yang sedang bertumbuh dan belum bisa berdiri sendiri. Dengan pendapatan terbatas, mereka yang membiayai anak-anak sekaligus orangtua serta kakek-nenek yang tidak lagi memiliki penghasilan.

Survei PT Astra Life yang diumumkan pekan lalu menampilkan wajah buram masyarakat kita. Hampir 40% wanita generasi sandwich mengaku menanggung tingkat stres yang ekstrem. Stres ini memengaruhi relasi personal, baik terhadap pasangan hidup, anak dan keluarga, dan juga kualitas hidup diri sendiri. Survei tahun 2021 itu dilakukan terhadap 1.828 responden usia produktif di 34 provinsi. 

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan,, 78.27% sumber pembiayaan rumah tangga lansia ditopang oleh anggota rumah tangga yang bekerja. Sedang menurut Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2017, sekitar 62,64% kaum lanjut usia di Indonesia tinggal bersama anak cucunya.

“Ibarat lapisan daging yang terhimpit di tengah roti lapis atau burger, sandwich generation adalah generasi yang berada di tengah himpitan antara tuntutan merawat orang tua serta membiayai hidup anak yang masih bergantung kepada mereka,” jelas Head Marketing Branding & Digital Astra Life, Windy Riswantyo.

Windy menyebutkan, ada 5 jenis Generasi Sandwich. Kategori yang paling ringan bebannya adalah open faced sandwich, yaitu generasi yang membiayai orang tua (29,2%). Kemudian, diikuti extended open faced sandwich, yaitu membiayai orang tua dan 1 anak (15,4%). Lalu, traditional sandwich, yaitu membiayai orang tua dan kakek nenek (33,3%). Selain terdapat extended traditional sandwich, yaitu membiayai orang tua, anak, dan kakek nenek (20,5%). Terakhir, club sandwich, yaitu membiayai orang tua, 2 orang anak, dan kakek nenek (1,6%).

Peran multipel dari generasi sandwich memiliki dampak negatif, baik dari aspek fisik, psikologis, emosional, dan beban finansial (Salmon, 2017). “Survei di Amerika Serikat tahun 2007 menunjukkan bahwa generasi sandwich yang terdiri atas usia 35-54 tahun, mengalami tingkat stres lebih tinggi karena dituntut untuk menyeimbangkan peran dalam perawatan anak dan juga orang tua mereka,” kata dokter spesialis jiwa dr Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ dari RS Pondok Indah dalam keterangan pers, beberapa waktu lalu.

Generasi sandwich yang menjadi pelaku rawat bagi dua generasi ini, lanjut dr Zulvia, lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental, antara lain, burn out (kelelahan fisik dan mental), gangguan tidur (banyak tidur atau kurang tidur), perasaan bersalah, merasa khawatir terus-menerus, hilang minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disenangi, ansietas (kecemasan), dan depresi.

Pada akhirnya, kondisi mental tersebut juga bisa memengaruhi kesehatan fisik, seperti kadar hormon stres yang lebih tinggi, mudah terinfeksi penyakit menular, respon imunitas yang lebih rendah terhadap influenza, penyembuhan luka yang lebih lambat. “Tingkat obesitas generasi sandwich juga lebih tinggi dan risiko penurunan kesehatan mental yang lebih tinggi,” ungkap dr Zulvia.

Pada 2016, penelitian Evans dan kawan-kawan menunjukkan bahwa seorang wanita pada generasi sandwich perlu memiliki strategi untuk dapat menyeimbangkan antara peran sebagai seorang ibu, pelaku rawat orang lanjut usia, dan pekerja. Ada beberapa strategi untuk menyeimbangkan peran tersebut sehingga dapat menurunkan tingkat stres.

Data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri menunjukkan, penduduk Indonesia mencapai 275,36 juta jiwa pada Juni 2022. Pada akhir 2020, jumlah penduduk Indonesia 271,4 juta. Dalam waktu kurang dari dua tahun terdapat tambahan 3,96 juta penduduk.

Dari 275,36 juta penduduk Indonesia per Juni 2022 itu, terdapat 190,83 juta (69,3%) penduduk yang masuk kategori usia produktif (15-64 tahun). Sekitar 84,53 juta jiwa (30,7%) penduduk yang masuk kategori usia tidak produktif. Jika dirinci lebih jauh, sebanyak 67,16 juta jiwa (24,39%) penduduk usia belum produktif (0-14 tahun) dan sebanyak 17,38 juta jiwa (6,31%) merupakan kelompok usia tidak produktif (65 tahun ke atas).

Komposisi jumlah penduduk seperti ini, dependency ratio atau rasio penduduk tidak produktif terhadap penduduk produktif sebesar 44,3%. Angka ketergantungan sebesar 44,3% artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung 44,3 penduduk usia tidak produktif.

Tips 

Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres antara lain, pertama, meminta bantuan untuk mengerjakan beberapa tugas rumah tangga, pengaturan pengurusan anak dan orang tua, dan sebagainya. Meminta bantuan bukan sebuah tanda kelemahan. Namun, kekuatan diri dalam mengelola tugas yang perlu dikerjakan.

Kedua, meluangkan waktu untuk diri sendiri (me time). Lalu, mengambil waktu khusus untuk melakukan hal bagi diri sendiri, misalnya mengerjakan hobi atau sekadar bersantai, dan memanjakan diri.

Ketiga, mengadakan pertemuan keluarga. Pertemuan keluarga dapat menjadi wadah untuk saling mencurahkan isi hati serta memberikan dukungan satu sama lain.

Pertemuan keluarga juga dapat digunakan untuk mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi dan bersama-sama fokus mencari solusi. Hal ini juga dapat meningkatkan kedekatan antaranggota keluarga dan memperkuat dukungan sosial bagi generasi sandwich. Menurut penelitian Kusumaningrum (2018), semakin tinggi persepsi dukungan sosial, semakin rendah beban pengasuhan yang dirasakan oleh generasi sandwich.

Keempat, mempertahankan komunikasi yang baik. Saat lelah dan stres, pola komunikasi dapat sangat terpengaruh dan cenderung mengarah pada pola komunikasi yang lebih emosional sehingga tingkat stres cenderung meningkat. 

Kelima, mempelajari cara komunikasi yang asertif dan baik untuk tetap menjaga suasana tenang dan nyaman dalam menjalankan peran sebagai Generasi Sandwich.

Keenam, melepaskan kendali terhadap segala sesuatu. Perfeksionisme dapat menghasilkan stres yang lebih tinggi. Kemudian, mempelajari cara untuk tidak selalu mengatur semua hal dalam kehidupan. Melakukan delegasi atau menyerahkan tugas tertentu pada orang lain.

Ketujuh, menikmati momen yang ada. Mengupayakan untuk dapat menikmati momen yang dimiliki saat ini. Menikmati peran saat merawat anak dan melihat pertumbuhan serta perkembangan anak, serta menikmati peran merawat orang tua sebagai wujud kasih sayang dan bakti pada orang tua. Membuat setiap momen menjadi berharga dalam kehidupan Anda dan keluarga.

Survei Katadata Insight Center untuk Astra Life pada September 2021 terhadap 1.828 responden berusia 25-45 tahun yang tersebar di seluruh Indonesia menunjukkan, sebanyak 82,6% generasi sandwich percaya mereka mampu merawat tanggungan dengan baik. Namun, faktanya, hanya 13,4% yang memiliki kesiapan finansial untuk memenuhi pengeluaran pokok, menabung, dan berinvestasi, serta 8-10% memiliki asuransi swasta pribadi. 

Sedangkan 52,2%, belum menyiapkan dana darurat, 67,7% tidak menyiapkan dana pendidikan anak, dan 33% tidak memiliki tabungan. “Padahal, merencanakan keuangan dan merealisasikannya merupakan kiat cerdas agar sukses menjadi Generasi Sandwich,” tandas Windy Riswantyo.

Kapan generasi sandwich turun di bawah 5%? ***

*Penulis adalah Jurnalis Senior, Peraih Anugerah Adinegoro PWI

Komentar