Breaking News

REFLEKSI Tak Perlu Bandingkan Diri Dengan Orang Lain 29 Jun 2024 19:54

Article image
Pribadi yang percaya diri, mampu menerima diri, respek pada diri, hormat pula pada orang lain, hidup dengan prinsip dan nilai yang diyakini, itulah pribadi yang berjatidiri.

Oleh Valen Daki-Soo

Menarik, ucapan bijak ini, "Comparison is the thief of your happiness." Saya pikir itu benar. Suka membandingkan (diri dengan orang lain) bisa 'mencuri' alias menggerogoti kebahagiaan hati Anda.

Saat awal-awal menulis refleksi di Facebook ini sebagai kebiasaan rutin harian, saya sering dikirimi pesan sejumlah kerabat. Ada yang menulis seperti ini, "Bang VDS, teruslah menulis. Pilihan kata dan cara merangkai kalimatnya lebih bagus daripada ...... (Dia menyebut nama seorang motivator kondang). Semoga suatu saat Bang VDS bisa tampil di televisi juga."
Sambil mengapresiasi balik komennya, saya merespons begini, "Terima kasih. Saya hargai apresiasinya. Tapi saya tidak bisa dibandingkan dengan sang motivator hebat itu. Beliau memang hidup dari profesinya itu. Beliau seorang profesional dalam dunia permotivasian. Sementara saya hanya senang saja berbagi semangat, dan berupaya rajin menulis supaya otak tetap aktif. Syukur-syukur kalau ada yang 'nyangkut' dan bermanfaat bagi kerabat pembaca."

Ya, sejak mula saya hanya ingin menulis, berbagi pikiran, pandangan dan pengalaman. Jika ada bagian yang dianggap berdaya motivasional, itu mungkin hanya dampaknya.

Namun, pernah ada juga kerabat yang menulis 'status' di FB kurang-lebih seperti ini, "Kalau memotivasi, jangan terlalu berlebihan. Apalagi jika belum apa-apa. Kecuali kalau sudah sekelas Bob Sadino dan orang top lainnya."

Kritik lembut ini menarik dan mungkin pas untuk saya dan kawan-kawan yang suka menulis dengan gaya 'seolah' motivator. Kritik seperti itu bagus agar kita tak hanya puas dengan kata-kata di dunia maya, melainkan harus kian maju di dunia nyata.

Namun, sedikit koreksi balik untuk catatan tersebut. Pertama, motivasi tak pernah berlebihan. Yang overdosis itu mungkin penggunaan kata atau 'keseringan' menulis, seolah menulis di FB adalah 'profesi' satu-satunya. Itu sebabnya saya hanya satu kali sehari menulis 'status' agar tidak overdosis -- sudah seperti obat ya.

Kedua, tak perlu membandingkan diri kita dengan Bob Sadino atau 'orang sukses' lainnya. Jika begitu, kita tak pernah bisa melangkah maju karena secara mental merasa 'tak ada apa-apanya' dibandingkan mereka yang sudah di puncak. Itu sebentuk demoralisasi diri, penurunan 'semangat tempur'.
Padahal siapapun yang sudah di 'atas' sana, pasti pernah jatuh-bangun seperti kita juga sebelum menapak puncak.

Lagipula, dengan nada setengah bercanda saya pernah bilang ke seorang sahabat, "Bersyukurlah, Anda bisa menulis. Belum tentu pengusaha papan atas atau pejabat tinggi itu bisa menulis. Paling 'nyewa' orang lain atau 'ghost writer' untuk bantu menulis pikiran dan pengalaman mereka."

Kecenderungan membandingkan itu sering tidak sehat dan bahkan merugikan perkembangan anak. Seorang ibu yang suka bandingkan prestasi anaknya dengan anak tetangga justru bisa melumpuhkan semangat anaknya untuk maju. Perbandingan semacam "Ah, kamu ini kok gak pintar-pintar. Masa kalah terus sama si Ani", berpotensi menghancurkan daya juang anak.

Kerap staf di perusahaan merasa tertekan dan berdampak pada merosotnya kinerja karena sering dibanding-bandingkan dengan staf lain. Lebih bijak, kita memandang dan menempatkan orang pada posisi yang sesuai bakat dan kemampuannya. Pimpinan perusahaan yang arif bijaksana pasti jeli membaca potensi para staf/karyawannya lalu mendorong mereka maju bersama dalam satu spirit untuk fokus mencapai tujuan.

Barangkali tak sedikit perempuan, khususnya yang belum matang, merasa rendah diri (inferior) karena tidak secantik temannya, apalagi jika membandingkan diri dengan artis idola di televisi dan film. Mereka perlu sadar, kecantikan itu tak sekadar rupa, dan ada banyak hal di luar urusan wajah dan bentuk 'bodi' yang bisa bikin mereka cantik. Boleh jadi kepribadian mereka lebih indah ketimbang artis di layar kaca.

Jika kita berhenti -- atau tak terbiasa -- membandingkan diri dengan orang lain, 'diri sejati' kita niscaya kian tampak dan bersinar pasti. Pribadi yang percaya diri, mampu menerima diri, respek pada diri, hormat pula pada orang lain, hidup dengan prinsip dan nilai yang diyakini, itulah pribadi yang berjatidiri.***

Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

 

Komentar